Mahasiswa S2 Pendidikan Fisika UNESA Perkuat Orientasi Riset Berkelanjutan melalui General Lecture 4 VTP FMIPA UNESA 2026: Peran Mathematical Modelling dalam Mendukung Pencapaian SDGs
Surabaya — Program Studi S2 Pendidikan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), kembali turut berpartisipasi aktif dalam General Lecture 4 dalam rangkaian Visiting Top Professor (VTP) FMIPA UNESA 2026 yang dilaksanakan pada Rabu, 20 Mei 2026 di Auditorium Prof. Slamet Dajono FMIPA UNESA. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Ebenezer Bonyah, profesor matematika dari Akenten Appiah-Menka University of Skills Training and Entrepreneurial Development (AAMUSTED), Ghana, yang termasuk dalam daftar Top 2% World Scientists. General Lecture 4 ini sekaligus menjadi sesi kuliah umum penutup dari seluruh rangkaian VTP FMIPA UNESA 2026, dan mahasiswa S2 Pendidikan Fisika hadir bersama sivitas akademika lintas program studi untuk menyerap wawasan akademik internasional dari ilmuwan kelas dunia tersebut untuk terakhir kalinya dalam rangkaian yang sangat berkesan ini.
Pada sesi kuliah umum penutup ini, Prof. Bonyah membawakan materi bertajuk "Teaching Science for Sustainability: The Role of Mathematical Modelling in the SDGs". Melalui materi tersebut, ia mengajak dosen dan mahasiswa untuk melihat bahwa matematika tidak hanya berfungsi sebagai alat analisis ilmiah, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Perspektif ini membuka dimensi baru bagi mahasiswa S2 Pendidikan Fisika dalam memahami bahwa fisika dan matematika, sebagai fondasi sains, memiliki peran yang jauh melampaui ruang kelas — yakni sebagai instrumen nyata dalam menjawab tantangan keberlanjutan global.
Dalam paparannya, Prof. Bonyah menjelaskan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai krisis keberlanjutan yang saling berkaitan, mulai dari perubahan iklim, pencemaran air, ketahanan pangan, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga permasalahan perkotaan. Menurutnya, berbagai persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan secara parsial karena merupakan sistem yang kompleks dan saling terhubung. Oleh sebab itu, pendekatan berbasis mathematical modelling menjadi sangat penting untuk memahami hubungan antarvariabel, memprediksi dampak, dan merancang solusi yang efektif. Kesadaran akan kompleksitas permasalahan global ini sangat relevan bagi mahasiswa S2 Pendidikan Fisika, khususnya dalam mengembangkan penelitian yang berorientasi pada solusi nyata berbasis sains dan teknologi.
Prof. Bonyah menegaskan bahwa matematika memiliki peran penting dalam proses prediksi, optimasi, simulasi, peramalan, dan pengambilan keputusan. Melalui model matematika, berbagai fenomena dunia nyata dapat direpresentasikan secara lebih sederhana sehingga memungkinkan para peneliti dan pembuat kebijakan memahami dinamika sistem yang kompleks. Salah satu contoh yang disampaikan adalah pemanfaatan model matematika dalam mendukung SDG 2 (Zero Hunger) melalui prediksi hasil panen, optimasi sistem irigasi, analisis kesuburan tanah, dan perencanaan ketahanan pangan. Selain itu, model matematika juga dapat digunakan dalam SDG 6 (Clean Water and Sanitation) untuk memprediksi penyebaran polusi air, memantau kualitas lingkungan perairan, dan mendukung pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. Ragam penerapan tersebut memberikan inspirasi bagi mahasiswa S2 Pendidikan Fisika untuk mengintegrasikan perspektif keberlanjutan dalam pengembangan penelitian pendidikan fisika yang kontekstual dan berdampak.
Pada bidang lingkungan, Prof. Bonyah menunjukkan bagaimana pemodelan matematika berkontribusi pada SDG 13 (Climate Action) melalui analisis sistem iklim, prediksi perubahan lingkungan, serta pengembangan strategi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Agar lebih kontekstual, Prof. Bonyah juga mengangkat berbagai contoh kasus yang relevan dengan Indonesia, di antaranya model matematika untuk pengelolaan banjir perkotaan di Jakarta, model pencemaran udara di Surabaya, optimasi energi surya, pengembangan sistem pembelajaran berkelanjutan, serta pemanfaatan kecerdasan buatan untuk manajemen lalu lintas perkotaan yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Contoh-contoh kontekstual berbasis kondisi Indonesia ini memperkuat keyakinan mahasiswa S2 Pendidikan Fisika bahwa riset pendidikan fisika yang berakar pada isu-isu lokal dapat memiliki dampak yang relevan dan signifikan secara global.
Dalam sesi diskusi, Prof. Bonyah juga menekankan pentingnya pembelajaran sains yang berorientasi pada keberlanjutan (Education for Sustainable Development). Menurutnya, mahasiswa perlu dibekali kemampuan berpikir sistemik, literasi data, dan keterampilan pemecahan masalah agar mampu berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai tantangan global di masa depan. Pesan ini menjadi refleksi yang mendalam bagi mahasiswa S2 Pendidikan Fisika — bahwa kompetensi yang mereka kembangkan selama studi pascasarjana bukan sekadar untuk kepentingan akademik, melainkan merupakan bekal nyata dalam berkontribusi pada pencapaian agenda pembangunan berkelanjutan melalui inovasi pendidikan fisika.
Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang diajukan terkait implementasi mathematical modelling dalam pendidikan, lingkungan, teknologi, dan kebijakan publik. Diskusi berlangsung dinamis dan menunjukkan tingginya minat sivitas akademika FMIPA UNESA terhadap pemanfaatan sains dan matematika untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Pelaksanaan General Lecture 4 ini secara langsung mendukung berbagai SDGs, terutama SDG 4 (Quality Education), SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), SDG 13 (Climate Action), serta SDG 17 (Partnerships for the Goals), sekaligus menjadi penutup yang bermakna bagi rangkaian keterlibatan mahasiswa S2 Pendidikan Fisika dalam program VTP FMIPA UNESA 2026. Melalui partisipasi aktif dalam seluruh rangkaian General Lecture bersama Prof. Ebenezer Bonyah, mahasiswa S2 Pendidikan Fisika FMIPA UNESA diharapkan semakin terinspirasi untuk mengembangkan penelitian yang inovatif, berbasis data, berorientasi pada solusi nyata, dan selaras dengan cita-cita pembangunan berkelanjutan global demi terwujudnya pendidikan fisika yang berkualitas dan berdampak luas bagi masyarakat.