Open House Rumpun Fisika UNESA 2026: Menguatkan Pendidikan Berkualitas melalui Inovasi Pembelajaran Fisika Berbasin Kearifan, Digital, dan Berkelanjutan
Rumpun Fisika Universitas Negeri
Surabaya menyelenggarakan kegiatan Open House Tahun Akademik 2026/2027
sebagai ruang pengenalan akademik, promosi program studi, sekaligus pameran
inovasi pembelajaran fisika yang dikembangkan oleh mahasiswa dan dosen. Kegiatan
ini menjadi momentum penting untuk memperlihatkan bahwa pembelajaran fisika
tidak hanya berkaitan dengan rumus, eksperimen, dan teori di ruang kelas,
tetapi juga dapat hadir dalam bentuk media digital, simulasi interaktif,
aplikasi berbasis budaya lokal, hingga karya visual yang dekat dengan kehidupan
peserta didik. Melalui kegiatan ini, Rumpun Fisika UNESA menunjukkan
komitmennya dalam menghadirkan pendidikan sains yang lebih kreatif, adaptif,
kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan pembelajaran masa kini.
Open House ini
menghadirkan suasana akademik yang hidup melalui berbagai kegiatan, seperti
WAFO atau Warung Informasi, Lab Tour, Pameran Produk Rumpun Fisika, serta
informasi Himpunan Mahasiswa Program Studi. Pengunjung tidak hanya memperoleh
informasi mengenai program studi, tetapi juga diajak melihat secara langsung
bagaimana proses pembelajaran fisika dapat dikembangkan menjadi produk yang
menarik dan aplikatif. Kegiatan ini turut memperkenalkan sejumlah program studi
yang berada dalam Rumpun Fisika, yaitu S1 Fisika, S1 Geofisika, S1 Pendidikan
Fisika, S2 Fisika, dan S2 Pendidikan Fisika. Kehadiran berbagai program studi
tersebut memperlihatkan keluasan bidang fisika UNESA, mulai dari kajian
keilmuan murni, pendidikan, kebumian, hingga pengembangan riset inovatif
berbasis teknologi.
Pada 20 Juni 2026, kegiatan Open
House Rumpun Fisika UNESA berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB
dengan melibatkan dosen, mahasiswa, tim peneliti, pengelola program studi,
serta para pengunjung yang ingin mengenal lebih dekat dunia fisika di UNESA.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya memperkenalkan suasana akademik Rumpun
Fisika kepada calon mahasiswa dan masyarakat pendidikan melalui rangkaian
pameran, demonstrasi produk, penjelasan media pembelajaran, serta interaksi
langsung antara pengembang karya dan pengunjung. Melalui format yang terbuka
dan komunikatif, kegiatan ini menjadi sarana untuk menjawab kebutuhan informasi
akademik sekaligus memperlihatkan bagaimana inovasi pembelajaran fisika dapat
dirancang, diuji, dan dikembangkan menjadi produk yang bermanfaat bagi sekolah
dan peserta didik.
Salah satu karya yang menarik
perhatian pengunjung adalah TRAITON, media pembelajaran berbasis web dan
animasi tiga dimensi yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami Hukum
Newton secara lebih visual, interaktif, dan menyenangkan. TRAITON menampilkan
materi dalam bentuk situasi kontekstual seperti “Toh Ganjel Toh”, “Pickup
Oleng”, dan Quiz Hukum Newton. Penyajian ini membuat konsep fisika yang sering
dianggap abstrak menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kekuatan
TRAITON tidak hanya terletak pada tampilannya yang modern, tetapi juga pada
caranya menggabungkan animasi, aktivitas mandiri, evaluasi, dan akses digital
melalui QR Code. Media ini memperlihatkan bahwa pembelajaran Hukum
Newton dapat dikemas secara lebih hidup, tidak kaku, dan sesuai dengan karakter
peserta didik yang akrab dengan teknologi.
Karya lain yang menonjol adalah
aplikasi DHYSNING, yaitu media pembelajaran fisika yang mengangkat kearifan
lokal Tari Boranan Lamongan untuk meningkatkan keterampilan literasi sains
peserta didik pada materi keseimbangan benda tegar. Karya ini menjadi salah
satu contoh kuat bahwa fisika dapat dipertemukan dengan seni, budaya, dan
identitas lokal. Melalui visualisasi tari, gerak tubuh, keseimbangan, dan
elemen budaya Lamongan, DHYSNING tidak hanya mengajarkan konsep fisika, tetapi
juga memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada peserta didik. Pendekatan ini
membuat pembelajaran terasa lebih bermakna karena peserta didik tidak hanya
memahami konsep, tetapi juga melihat hubungan antara ilmu pengetahuan dan
warisan budaya yang hidup di masyarakat.
Nuansa seni dan budaya juga
tampak melalui karya SiVEKa atau Simulasi Virtual Etnofisika Kekehen, yang
dikembangkan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif peserta didik
SMA. Media ini menghadirkan pendekatan etnofisika, yaitu pembelajaran fisika
yang mengaitkan konsep sains dengan praktik budaya, permainan, atau fenomena
lokal. Dalam pameran, SiVEKa tampil sebagai karya yang tidak hanya informatif,
tetapi juga memiliki nilai estetika melalui pemanfaatan visual, dokumentasi
kegiatan, luaran buku, artikel ilmiah, dan sertifikat HKI. Karya ini
memperlihatkan bahwa pembelajaran fisika dapat menjadi ruang dialog antara
sains dan kebudayaan, sehingga peserta didik tidak merasa bahwa fisika adalah
ilmu yang jauh dari kehidupan mereka.
Selain itu, terdapat karya ELIP-Virtual
Simulation, yaitu media berbasis model inkuiri berbantuan simulasi virtual
untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik dalam
pembelajaran fisika. Media ini menampilkan simulasi 3D interaktif, lembar kerja
digital, fitur eksplorasi dan analisis, reflective assist, data analytics,
serta akses mobile learning. Tampilan visualnya yang kuat membuat peserta didik
seolah berada dalam ruang eksperimen virtual yang memungkinkan mereka
mengamati, mencoba, menganalisis, dan menarik kesimpulan secara mandiri. ELIP-Virtual
Simulation memperlihatkan arah baru pembelajaran fisika yang tidak lagi
bergantung sepenuhnya pada laboratorium fisik, tetapi juga mampu memanfaatkan
teknologi digital untuk memperluas pengalaman belajar.
Karya berbasis isu kebencanaan
juga hadir melalui AIMETRIS: AI-Assisted STEAM-ESD Megatrust
Simulation. Produk ini dirancang sebagai platform website yang memuat
simulasi terjadinya megathrust, dampak yang ditimbulkan, serta situasi
permasalahan yang mendorong peserta didik untuk menganalisis informasi dan
mempertimbangkan alternatif tindakan. AIMETRIS mengintegrasikan pendekatan
STEAM dan Education for Sustainable Development untuk memperkuat
keterampilan pengambilan keputusan peserta didik dalam konteks kebencanaan.
Pada poster yang ditampilkan, AIMETRIS juga menekankan pentingnya pemahaman
risiko geologis Indonesia sebagai negara yang berada di antara lempeng besar
Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, sehingga pembelajaran fisika dapat
berkontribusi pada literasi bencana dan kesiapsiagaan masyarakat.
Pameran karya dalam Open House
ini menjadi bukti bahwa mahasiswa dan dosen Rumpun Fisika UNESA tidak hanya
menghasilkan produk akademik dalam bentuk laporan penelitian, tetapi juga
menghadirkan karya nyata yang dapat digunakan, dilihat, diuji, dan dirasakan
manfaatnya. Poster penelitian, x-banner, aplikasi, media web, buku, HKI,
artikel ilmiah, hingga dokumentasi kegiatan tersaji sebagai satu kesatuan
ekosistem riset pendidikan fisika. Keberadaan karya-karya tersebut
memperlihatkan bahwa penelitian di lingkungan Magister Pendidikan Fisika UNESA
memiliki arah yang jelas, yaitu menghasilkan inovasi pembelajaran yang valid,
praktis, efektif, dan berdampak bagi peserta didik.
Hal yang menarik dari pameran ini
adalah kuatnya perpaduan antara sains, teknologi, seni, dan budaya lokal. Karya
seperti DHYSNING dan SiVEKa menunjukkan bahwa pembelajaran fisika dapat dibuat
lebih dekat dengan peserta didik melalui pendekatan budaya. Tari Boranan
Lamongan, etnofisika, permainan tradisional, ilustrasi visual, dan narasi lokal
menjadi jembatan untuk menjelaskan konsep-konsep fisika yang selama ini sering
dianggap sulit. Sementara itu, TRAITON, ELIP-Virtual Simulation, dan
AIMETRIS memperkuat sisi teknologi melalui animasi 3D, simulasi virtual, website,
data analytics, dan kecerdasan buatan. Perpaduan ini menjadikan Open
House Rumpun Fisika UNESA bukan sekadar kegiatan promosi akademik, tetapi
juga ruang apresiasi terhadap kreativitas, riset, dan inovasi pembelajaran.
Melalui kegiatan ini, pengunjung
juga mendapatkan pengalaman langsung untuk berdiskusi dengan pengembang media,
melihat cara kerja aplikasi, memindai QR Code, membaca luaran
penelitian, dan memahami proses pengembangan produk. Interaksi tersebut menjadi
bagian penting karena pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga
dapat bertanya, mencoba, dan memberikan respons terhadap media yang
ditampilkan. Suasana ini memperlihatkan bahwa pembelajaran fisika yang baik
membutuhkan kolaborasi antara peneliti, pendidik, peserta didik, dan
masyarakat. Dengan demikian, Open House menjadi ruang temu yang
menghubungkan hasil riset kampus dengan kebutuhan nyata pembelajaran di
sekolah.
Kegiatan Open House Rumpun
Fisika UNESA juga menjadi sarana untuk memperkuat citra program studi sebagai
lingkungan akademik yang produktif dan inovatif. Magister Pendidikan Fisika
UNESA melalui karya-karya mahasiswanya menunjukkan bahwa penelitian tesis dapat
diarahkan pada pengembangan produk pembelajaran yang aplikatif, bukan hanya
berhenti pada kajian teoritis. Produk-produk yang ditampilkan memperlihatkan
keberanian mahasiswa dalam mengolah isu pendidikan, teknologi, budaya lokal,
kebencanaan, literasi sains, berpikir kritis, dan berpikir kreatif menjadi
media pembelajaran yang menarik. Hal ini sejalan dengan kebutuhan pendidikan
abad ke-21 yang menuntut peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi,
literasi digital, kesadaran lingkungan, dan kemampuan mengambil keputusan
secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, Open House Rumpun
Fisika UNESA Tahun Akademik 2026/2027 menjadi wujud nyata kontribusi perguruan
tinggi dalam mendukung pendidikan berkualitas, inovasi pembelajaran digital,
pelestarian budaya, dan penguatan literasi kebencanaan. Kegiatan ini relevan
dengan semangat Sustainable Development Goals, terutama SDG 4 tentang
pendidikan berkualitas yang menekankan pentingnya pendidikan inklusif, setara,
dan kesempatan belajar sepanjang hayat, serta SDG 13 melalui penguatan
pembelajaran terkait perubahan iklim, risiko lingkungan, dan kesiapsiagaan
bencana. Capaian ini juga sejalan dengan arah THE Impact Rankings, yang
menilai kontribusi perguruan tinggi terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan
melalui pendidikan, riset, dan dampak sosial institusi. Dengan demikian,
karya-karya yang dipamerkan dalam Open House Rumpun Fisika UNESA tidak
hanya menjadi produk akademik, tetapi juga menjadi bukti kontribusi nyata UNESA
dalam membangun pendidikan sains yang berdampak, berkarakter, dan
berkelanjutan.
~HZA & RTL